Api Setogor Tak Terkendali! HPI Agro Djarum Grup Diam Seribu Bahasa, PT Global Kalimantan Makmur (GKM) Hancurkan Sekayam.

- Penulis

Minggu, 13 September 2026 - 02:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cybertv.id

SEKAYAM, 13 September 2026 – Kebakaran tandan kosong kelapa sawit milik PT Global Kalimantan Makmur (GKM) di Dusun Setogor, Sekayam, Sanggau, Kalimantan Barat, bukan sekadar api menyala. Ia menjelma simbol telanjang betapa klaim “sawit lestari” ala Djarum Grup hanyalah brosur manis tanpa isi.

Kobaran api menjulang dari penimbunan tangkos sejak Rabu malam, 9 September 2026. Asap pekat menutup langit, warga panik, sementara perusahaan bungkam. Hingga kini, penyebab kebakaran belum diumumkan. Publik bertanya di mana sistem mitigasi kebakaran yang dijanjikan?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro), entitas Djarum Grup, mengklaim pionir sawit berkelanjutan. Namun audit 2018 menohok: mereka bukan anggota RSPO, tak punya kebijakan NDPE, hanya bersembunyi di balik ISPO. Ironi: korporasi triliunan rupiah enggan meneken pakta sederhana No Deforestation, No Peat, No Exploitation.

Warga Sekayam menjerit. Sungai tercemar limbah cair, sawah berbau busuk, ikan mati. Sementara di Jakarta, laba sawit mengalir ke jet pribadi Hartono. Paradoks kapitalisme: cuan dibawa ke kota, racun ditinggal di dusun.

Aparat penegak hukum datang, foto-foto, lalu pulang. Warga bosan. Mereka menuntut tindakan nyata, bukan sekadar konferensi pers. Penegakan hukum sering jadi macan ompong di hadapan pemodal besar.

Kasus kebakaran tangkos PT Global Kalimantan Makmur (GKM) membuka borok lama industri sawit. Material organik menumpuk tanpa pengamanan memadai, lalu terbakar. Publik menunggu klarifikasi resmi, tetapi perusahaan memilih diam.

Di balik api, tersingkap sejarah panjang kelalaian. HPI Agro, bagian dari Djarum Grup, berulang kali dikritik karena tidak transparan soal keberlanjutan. Mereka bukan anggota RSPO, tidak punya kebijakan NDPE, dan hanya mengandalkan ISPO standar wajib pemerintah, bukan premium global.

Baca Juga:  DPO KASUS PENGADAAN TANAH SALAH SATU BANK DAERAH DI KABAR MENYERAHKAN DIRI KE KEJAKSAAN TINGGI KALIMANTAN BARAT.

Audit independen menyebut dugaan pencemaran berulang. Kolam limbah diduga dialirkan diam-diam ke sungai. Pola residivisme ekologis ini bukan hal baru. Warga Sekayam merasakan langsung dampaknya: air membuat kulit gatal, ikan berbau minyak hitam.

Kesenjangan mencolok. Grup Djarum menguasai BCA, Blibli, dan media digital Narasi. Mereka simbol high class bisnis Indonesia. Namun di pelosok Sanggau, limbah cairnya tak lebih dari air got. Potret kapitalisme busuk: retorika hijau di iklan, racun nyata di desa.

Kebakaran tangkos hanyalah puncak gunung es. Ia menyingkap pembiaran sistematis. Warga bosan melapor, aparat bosan menindak. Hukum jadi tontonan, bukan solusi.

Ironi makin tajam ketika dunia memberlakukan regulasi deforestasi Uni Eropa (EUDR). Ulah Djarum Grup bisa jadi bumerang citra sawit nasional. Bayangkan, ribuan triliun aset Bank BCA tercoreng gara-gara pipa limbah ilegal di dusun terpencil.

Warga Sekayam tak butuh brosur ISPO. Mereka butuh air bersih, sawah subur, sungai hidup. Mereka rindu masa sebelum sawit ditanam. Kasus ini lahir dari cinta pada tanah dan air Kalimantan.

Jika Djarum Grup benar jagoan bisnis, tunjukkan kejagoan mengelola limbah setangguh mengelola laba. Jangan biarkan sejarah mencatat sungai Sekayam mati suri bukan karena alam, melainkan karena kerakusan manusia.

Kebakaran tangkos PT Global Kalimantan Makmur (GKM) di Sekayam membuka borok Djarum Grup. Klaim sawit lestari runtuh, warga menjerit, hukum macan ompong, kapitalisme busuk.

Editor : Yohanes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel cybertv.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kasus Dugaan Perampasan Emas : Dugaan Keterlibatan Oknum Kejari Sekadau Dipertanyakan, Mengapa Belum Tersentuh?
PWI Kalbar Prihatin dan Mengecam Dugaan Intimidasi terhadap Wartawan di Ketapang
Diduga Dilandasi Dendam, JM Mengaku Kembali Diintimidasi Terlapor Kasus Dugaan Penganiayaan
KEJATI KALBAR: PENGALIHAN JENIS PENAHANAN TERDAKWA MERUPAKAN KEWENANGAN MAJELIS HAKIM, JPU LAKSANAKAN PENETAPAN PENGADILAN
Sidang Perdana Dugaan Korupsi Dana Hibah Mujahidin Kalbar Digelar, Kerugian Negara Capai Rp9,7 Miliar.
Ketua DPD Pasukan Adat Nusantara Kalimantan Barat Minta Polda Tutup Permanen Tempat Hiburan yang Menjadi Tempat Pesta Narkoba
Kuasa Hukum Een Sugianto Apresiasi Kinerja Polresta Pontianak Dalam Upaya Penangkapan Terduga pelaku TPPO
Kepala Desa Balai Ingin Resmi Diserahkan ke Kejari Sanggau, Negara Rugi Hampir Rp1 Miliar
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:52 WIB

Api Setogor Tak Terkendali! HPI Agro Djarum Grup Diam Seribu Bahasa, PT Global Kalimantan Makmur (GKM) Hancurkan Sekayam.

Kamis, 10 September 2026 - 04:33 WIB

Kasus Dugaan Perampasan Emas : Dugaan Keterlibatan Oknum Kejari Sekadau Dipertanyakan, Mengapa Belum Tersentuh?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:37 WIB

PWI Kalbar Prihatin dan Mengecam Dugaan Intimidasi terhadap Wartawan di Ketapang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 16:20 WIB

Diduga Dilandasi Dendam, JM Mengaku Kembali Diintimidasi Terlapor Kasus Dugaan Penganiayaan

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:32 WIB

KEJATI KALBAR: PENGALIHAN JENIS PENAHANAN TERDAKWA MERUPAKAN KEWENANGAN MAJELIS HAKIM, JPU LAKSANAKAN PENETAPAN PENGADILAN

Berita Terbaru