*Karya Seni Kreatif – Menggugah Negeri Berkompetsi Mulia Via ISI Surakarta, Etc*

oleh -115 Dilihat

Cybertv.id – Prosesi Karya Seni rutin tiap bulan pertama di Jurusan Kriya ISI Solo, kali ini berlangsung sore hari mulai jam 15.00-17.30 WIB. Diskusi tersebut kali ini menjadi bagian dari semaraknya acara Festival Pasca Penciptaan #2 yang dilaksanakan Program Pasca Sarjana ISI Solo bekerjasama dengan Kementterian Kebudayaan Indonesia. Dalam Diskusi tersebut dihadiri ratusan mahasiswa S1, S2 dan S3 ISI Solo, dosen dan para pemerhati seni dari Solo, Bali, dan Jogja.(10/9/2025)

 

Dalam bentukan dari narasumber / pendidik seni perform yang diberikan kepada talent-telent mahasiswa/mahasiswi , menginspirasikan sumber daya manusia dikeesokan hari nya dapat berproses cepat, maju, dan insiatif inspirasi jiwa seni dsbnya dapat tumbuh pesat di pengembanan pusat pemikiran – pengamalan dapat mengenalkan kepastian ke kanca masyarakat ikut terus berdenyut secara cepat di nasonal maupu internasional. Adapun menurut para pendidik “angkat bicara dalam lugasnya di seasion manis sebagai berikut :

 

Pembicara *Dr. Aries BM.

 

Pembicara  *Dr. Fajar Apriyanto

 

Pembicara  *Hendra Himawan M.Sn

 

Diantara 3 karya monumentalnya yang terpasang di area diskusi memaparkan konsep monument hasil ciptaannya yang dipamerkan dalam  Festival Pasca Penciptaan #2 tersebut. Karya “MONUMEN KREWENG” Aries BM bernafaskan ekspresi komunal yang berpihak kepada kehidupan sosial budaya masyarakat.

 

Menurut Aries : Keterkaitan monumen dengan masyarakat secara umum biasanya hanya terjadi dalam satu arah, dimana masyarakat berkedudukan sebagai pengamat dan bukan sebagai objek monumen. Secara umum masyarakat luas membicarakan monumen-monumen yang ada, anehnya masyarakat itu sendiri sangat jarang dibicarakan secara visual dalam sebuah monumen.

 

Kebanyakan monumen yang dibangun pada saat itu terasa berkaitan dengan rezim yang berkuasa. Akhirnya memunculkan pertanyaan sepihak, apakah monumen niscaya dibangun dalam narasi dominan yang seolah harus membangkitkan semangat nasionalisme, kesejarahan masa lampau atau figur-figur atas elite politik tertentu. Ataukah sebenarnya tujuan dan fungsi pembangunan monumen itu hanya untuk menunjukkan penghargaan dan pengakuan atas sebuah kekuasaan agar apa yang mereka capai bisa diketahui generasi selanjutnya. Bahkan, pembangunan monumen berupa figur tokoh tertentu sengaja dilakukan berulang-ulang, terasa jelas seperti proyek loyalitas seorang pemimpin kepada petingginya agar mendapat catatan pujian ataupun penghargaan tertentu. Monumen publik tentang figur tokoh umumnya mencerminkan sentimen individu atau kelompok yang mengklaim bahwa sejarah sedang ditulis secara berulang-ulang.

 

Fungsi monumen selain mengusung kepentingan citra dan makna, sebuah monumen dalam dimensi visualnya perlu terhubung dengan publik secara langsung. Akses informasi, edukasi, persepsi dan fungsinya perlu dirasakan oleh publik secara eksplisit. Atas dasar ini monumen akan memiliki arti tersendiri bagi masyarakat, sehingga melahirkan relasi secara mendalam.  Upaya kongkrit perlu dilakukan adalah bagaimana sebuah karya seni monumen ini dapat dihadirkan melalui bentuk objek yang dapat merepresentasikan realitas kehidupan masyarakat. Landasan dasar konsep bangunan monumen tersebut diharapkan mampu memberikan ruang penyampaian seni secara komunal sebagai bentuk edukasi dan penghargaan kepada masyarakat dalam bentuk monumen.

 

Kehidupan masyarakat merupakan fenomena yang kompleks dan langsung dapat dihadapi sebagai rangsangan ide penciptaan. Kehadiran karya seni monumen dalam hal ini bisa menjadi representasi masyarakat secara nyata dan terintegrasi di dalam suatu kawasan dan  kehidupan masyarakat penggunanya. Monumen Kendi Pancawara memiliki sisi lain tentang sebuah objek penciptaan yang menghubungkan benda budaya dengan masyarakat penggunanya. Penandaan yang harmonis dalam konsep monumen ini berkorelasi membangun ikatan identitas kultural, sehingga mampu mendeskripsikan karakteristik sosial budaya sebuah masyarakat.

 

Karya seni monumen yang berdedikasi pada keadaan sosial masyarakat, selayaknya akan mampu memberikan pengalaman kolektivitas, pengalaman integritas maupun pengalaman keindahan yang bermartabat. Pemaknaan kualitas seni yang demikian tersebut sebagai significant form atau bentuk yang dianggap penting dan bermakna. Sejauh mana penciptaan sebuah karya seni akan mampu merefleksikan masyarakatnya harus mempertimbangkan esensi nilai-nilai yang melekat pada kehidupan sosial yang melingkupinya.

 

Dalam proses ciptanya, Aries BM melakukan riset emik bersama masyarakat penggunanya.  Kerja seni partisipatoris dilakukannnya melalui praktik artistik di mana masyarakat dilibatkan dalam proses seninya. Proses tersebut menciptakan makna bersama melalui kolaborasi antara seniman dan publik. Kajian tentang ekspresi sensual masyarakat menjadi karya seni monumen menjadi suatu hal yang menarik dan menstimulus ide-ide penciptaan monumen yang mengarah pada nilai-nilai kultural yang lebih membumi. Selanjutnya dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengembangan pembangunan monumen di Indonesia.

 

Dr. Fajar Apriyanto memaparkan karya seninya yang juga dipamerkan dalam Festival Pasca Penciptaan #2 tersebut. Karya fotografi Fajar bercerita tentang pengalaman empiris yang diekspresikan secara personal. Fajar mengekspresikan pengalamannya tentang kehilangan seorang ibu. Dalam karya fotografinya Ia menghadirkan potret dirinya dari masa kanak-kanak hingga dewasa yang ditempelkannya pada sosok manekin berbalut kain tembus pandang. Pengalaman kecemasan kehilangan sosok Ibu tersebut diungkapkan untuk menemukan objek fetish sebagai penanda visual yang mengandung daya magis, hasrat serta libido. Objek fotografi Fajar dimaknai sebagai metafora dan metonimi. Dalam konteks ini, punctum hadir sebagai elemen personal yang otentik, orisinal sekaligus individual sebagai voice of singularity.

 

Karya fotografi Fajar menggunakan pendekatan semiotika untuk mengungkap lapisan makna tersembunyi, sementara psikoanalisi sebagai teori utama untuk memahami subjek dalam ranah unconsciousness atau ketidaksadaran. Kedua teori tersebut menurut Fajar saling melengkapi, Semiotika membantu menjelaskan tanda dan representasi, Sedangkan psikoanalisi menyingkap struktur psikis yang tak disadari.

 

Hendra Himawan M.Sn dengan materinya Proses Kreatif Karya Seni Rupa, yang berperan sekaligus sebagai pemantik diskusi menggarisbawahi bahwa Karya Aries BM merupakan karya seni yang berpihak pada Ekspresi Komunal, sedangkan karya Fajar lebih focus pada karya ekspresi personal. Keduanya memiliki proses yang berbeda. Ekspresi personal dalam seni adalah curahan perasaan, pikiran, dan pengalaman unik individu seniman yang tercermin dalam karya seni, sedangkan ekspresi komunal adalah ekspresi seni yang bersifat kolektif, mencerminkan identitas, nilai, dan kehidupan bersama suatu kelompok atau masyarakat. Keduanya merupakan bagian dari seni yang saling melengkapi, di mana ekspresi personal memberikan keaslian dan keunikan, sementara ekspresi komunal memperkuat identitas budaya dan hubungan sosial.

 

Terkait dengan karya Aries, Hendra mengungkapkan bahwa seni patung/monumen publik sekaligus mengusung kepentingan ganda di luar fungsi fisiknya (sebagai penanda sudut kawasan atau landmark), yakni dalam fungsi sosialnya sebagai sarana cermin masyarakatnya yang merefleksikan nilai sosial budaya, serta sebagai sarana pewarisan (transform) nilai tertentu yang dianggap penting, dari kelompok dan generasi yang satu kepada kelompok dan generasi lainnya (sebagai media pembangun aspek spiritualitas warganya). Lebih dari itu, patung landmark, merupakan ekspresi jatidiri suatu kawasan yang disebut sebagai faktor kunci dalam penciptaan rasa harga diri dan jatidiri atau identitas, dan pengejawantahan dari kesinambungan masa lampau, masa kini dan masa mendatang.

 

Terkait dengan karya Fajar, Hendra mengungkap bahwa dalam memanifestasikan pengalamannya, seorang seniman dapat memilih tragedy atau komedi. Tragedi adalah genre yang serius dan menyedihkan, sementara Komedi adalah genre yang ringan, menghibur, dan biasanya berakhir dengan bahagia. Perbedaan utama terletak pada tema, suasana, dan penyelesaian cerita, di mana tragedi mengeksplorasi penderitaan manusia dengan akhir yang sedih, sedangkan komedi berfokus pada humor dan kebahagiaan.

 

Ekspresi dalam seni menjadi sarana pengungkapan perasaan, emosi, ide, dan pikiran seniman melalui berbagai media seni seperti patung, fotografi, musik, tarian, atau seni yang lain. Seni menjadi bahasa nonverbal untuk mengkomunikasikan pengalaman batin, membantu seniman untuk memahami diri sendiri, dan memberikan pengalaman emosional kepada penonton.

 

Fungsi seni akhirnya sangat beragam, mulai dari pengembangan keterampilan pribadi seperti kreativitas, konsentrasi, dan ekspresi diri, hingga fungsi sosial seperti sebagai media hiburan, pendidikan, komunikasi, dan pemersatu budaya.

 

bagiamana diri kalian semua? akankah siap berprestasi lebih kiprahkan sayap-sayap nya ke jenjang yang mumpuni dalam suatu nilai seni itu dapat dimulai dari dini, remaja, dan dewasa tepat mengarah pada pertumbuhan sosial budaya yang agung mencerdaskan seluruh akal pemikiran kreasi tanpa batas bekerja tanpa batasan untuk cikal bekal “anak bangsa Indonesia terhindar dari hal-hal yang lupakan seni sejarah tertoreh hingga hayat pun terpatri di diri masing-masing dedikasi mulia san pendidik”. bagaimana mahasiswa/mahsiswi kedepan – berani berekspresi dengan kami di ISI Surakarta, dan lokasi-lokasi lainnya yang akan kami gemingkan dalam adab dan temporatur khusus kiat sukses meraih mimpi sejenak di dunia seni bersama talent diri.

 

dengan demikian kami tim keredaksisan media platform digital siber online pun, mengkutip bersama secara aklamasi acara ini dapat terdengung ke bumi alam semesta  membaur bahagia, hingga masuk memusatkan bentukan pikiran  kecintaan di dunia seni (Indonesia) , lebih tinggi konduite untuk kebenaran sesama. Festival Pasca Penciptaan #2 sampai akhirnya menjadi akad duduk kebersamaan dapat terus meningkat di kehidupan dan terima kasih dalam tim pengembang pun terhatur ke berbagai kementrian kebudayaan dan sebagainya “ikut membangnun konsepsi wejangan ini, tumbuh dikoridor-koridor berikutnya meraih masa depan jenjang pendidik dan pendidikan seni bermakna selamat di Indonesia”. Majulah jiwa seni dstnya kokoh mengantarkan sejati nah Bangsa Indonesia menuai nilai karekter budidaya pekerti bijak dan mulia bersama-sama.(Wid)

 

Red©11/9/2025/Surakarta – Jawa Tengah/

No More Posts Available.

No more pages to load.