Cybertv.id-Coba bayangkan Indonesia 10- 20 tahun lagi (Indonesia emas) Siapa yang akan jadi dokter, pendidik, dosen, konselor, petani, insinyur, atau pemimpinnya ? Jawabannya ada di ruang kelas hari ini. Di situlah *pendidikan nasional* bekerja dengan logika berpikir cerdas
Pendidikan nasional bukan cuma urusan Kementerian Pendidikan. Ini adalah proyek besar bangsa untuk mencetak manusia Indonesia yang cerdas otaknya dan mulia akhlaknya. Sesederhana itu, tapi menjawab tantangannya luar biasa, bukan malah dikebiri bahkan dimatikan atau dihapuskan pendidikan nya.
*Gambaran Pendidikan Kita Sekarang : Antara Harapan dan Realita*
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
*Yang sudah bagus :*
Hampir semua murid Indonesia sekarang bisa sekolah di pendidikan dasar sampai tinggi (wajib belajar 13 tahun) Dulu, banyak anak di desa harus putus sekolah karena biaya atau jarak. Sekarang, akses sudah jauh lebih terbuka. Belum lagi program *Merdeka Belajar* yang memberi pendidik dan murid ruang lebih leluasa untuk kreatif, bukan cuma kejar kuantitatif nilai ujian saja tapi lebih menekankan kualitatif yang nantinya akan diikuti kuantitatif
*Yang masih jadi pekerjaan rumah pendidikan (negara) :* adalah bagaimana negara bisa win solution untuk segera selesaikan masalah pendidikan yang di dalam nya ada pendidik, tenaga pendidikan, murid dan masyarakat, seperti PR kemampuan murid membaca, menulis dan berhitung, menurut data, Hasil assesment internasional PISA murid Indonesia masih ketinggalan dalam membaca dan berhitung dibanding negara lain. Banyak murid yang bisa baca, tapi belum tentu paham isi bacaannya. Bisa hitung, tapi bingung kalau soal cerita. Apalagi pendidikan logika dan karakter
Di kota besar, sekolah sudah pakai AC, proyektor, bahkan AI. Tapi di daerah terpencil, masih ada sekolah yang atapnya bocor dan pendidik honorer yang gajinya pas-pasan. Negara perlu hadir disana untuk memenuhi amanat undang-undang Pendidikan. Kesenjangan ini yang harus segera diselesai dan tuntas sebelum Indonesia emas.
*pendidik : Kunci yang Sering Terlupakan*
Kita sering bicara soal kurikulum, fasilitas, teknologi. Tapi lupa, ujung tombaknya tetap pendidik. Pendidik yang hebat bisa bikin murid yang minim fasilitas jadi luar biasa. Sebaliknya, fasilitas canggih tanpa pendidik yang kompeten ilmu nya karena pendidik bukan mekanik atau operator tapi sebagai konduktor orkestra pendidikan.
Makanya diperlukan penataan kembali kualitas pendidikan tidak hanya kejar target saja dalam pelaksanaan *PPG = Pendidikan Profesi Guru*. Tujuannya satu: pastikan setiap pendidik benar-benar siap melakukan belajar dan mengajar, bukan cuma mendorong segera punya ijazah.
*Tantangan pendidikan : HP, Medsos, dan Karakter*
Era sekarang anak-anak lebih banyak belajar dari TikTok , IG, youtube daripada buku. Informasi ada di ujung jari. Ini tantangan sekaligus peluang.
Pendidikan nasional sekarang nggak cuma ngajarin 2+2=4. Tapi juga ngajarin: “Informasi hoaks atau fakta ?” “Gimana cara kerja sama walau beda pendapat ?” “Gimana tetap jujur di era digital ?” dan bagaimana kita diberi hak oleh negara dengan sehingga kewajiban pendidikan akan terwujud
Makanya lahirlah *Profil Pelajar Pancasila* — anak Indonesia yang kritis, kreatif, gotong royong, toleran, empati, jujur, bertanggungjawab danl punya karakter baik dan kuat.
*Jadi, Apa Harapan Kita ?*
Pendidikan nasional yang ideal :
1. *Merata*: Anak Papua dan anak Jakarta dapat kesempatan yang sama dalam kesempatan pendidikan
2. *Relevan*: bukan setelah pendidikan atau.Lulus sekolah langsung bisa kerja atau lanjut kuliah tanpa bingung. Karna kita pabrik industri tapi intelektual industrim
3. *Berkarakter*: Pintar iya, tapi juga jujur, toleran, dan peduli sesama dan yang paling utama bisa sebagai role model memanusiakan manusia
Pendidikan itu seperti menanam pohon. Hasilnya nggak kelihatan besok. Tapi 10-20 tahun ke depan, pohon itulah yang akan memberi naungan untuk seluruh bangsa.
*Pertanyaannya sekarang: pohon pendidikan seperti apa yang sedang kita tanam hari ini?*
Dr. Drs. H. Tri Leksono Ph,. S. Kom,. M. Pd,. Kons (komisi etik dan perlindungan pendidik nasional / KEPPNAS)
( Sukindar)














