BMKG Perkuat Sinergi Hadapi Musim Kemarau 2025 dan Cegah Karhutla di Riau

- Penulis

Jumat, 25 April 2025 - 14:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cybertv.id.- Pekanbaru, 25 April 2025 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat sinergi lintas sektor untuk mengantisipasi dan menanggulangi dampak musim kemarau 2025 di Provinsi Riau. Kolaborasi ini dinilai krusial mengingat potensi kekeringan dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama musim kemarau.

Baca juga : Pangdam XII/Tpr Tutup Resmi Dikmata TNI AD Gelombang I Tahun 2025

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan proyeksi musim kemarau di Riau serta potensi dampaknya. Ia menyoroti keuntungan geografis Riau yang memiliki dua musim hujan dan dua musim kemarau dengan intensitas matahari dan hujan tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Riau merupakan salah satu daerah yang rawan Karhutla. Karena itu, sinergi dan literasi iklim menjadi penting agar semua pihak, termasuk pemerintah daerah, dapat bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan,” ujar Ardhasena dalam dialog interaktif bertema “Musim Kemarau 2025 dan Penanggulangan Karhutla di Riau” bersama Radio Republik Indonesia (RRI), Rabu (24/4).

Selain dengan RRI, BMKG juga menggandeng TVRI untuk memastikan informasi menjangkau masyarakat luas. Musim kemarau di Riau diperkirakan berlangsung pada Mei hingga Juli 2025 dengan kondisi normal, tidak sekering pada tahun-tahun El Niño seperti 2015, 2019, dan 2023.

Baca juga : KKP Segel Tiga Lokasi Penjualan Ilegal Arwana Super Red, 551 Ekor Diamankan

“Meskipun diprediksi normal, potensi Karhutla tetap ada. Pengalaman dari musim kemarau serupa sebelumnya menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan,” tambahnya.

Langkah Mitigasi Daerah

Kepala BPBD Provinsi Riau, M. Edi Afrizal, melaporkan hingga saat ini telah terpantau 42 titik api dengan total luas kebakaran mencapai 78,56 hektare, seluruhnya berhasil dipadamkan. Pemerintah Provinsi Riau juga aktif melakukan mitigasi, salah satunya melalui pelaksanaan Jambore Kebakaran Hutan dan Lahan pertama di Indonesia pada 25–27 April 2025.

Baca Juga:  Mafia Obat Keras Kuasai Bandung: Konsorsium ‘Burung Hantu’ Diduga Setor Puluhan Juta ke Tiap Titik Penjualan

Kegiatan ini dirangkai dengan Apel Siaga yang dipimpin langsung oleh Gubernur Riau, sebagai bentuk kesiapan menghadapi musim kemarau dan mencegah dampak seperti kabut asap yang membahayakan kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Membangun Kolaborasi Inovatif

Baca juga : Kapolres Nganjuk Kawal Langsung Kepulangan Rombongan IKSPI di Perbatasan Wilangan

Dalam rangka memperluas kolaborasi, BMKG juga mengunjungi Politeknik Caltex Riau. Ardhasena meninjau stasiun mini buatan mahasiswa untuk simulasi data kualitas udara serta cuaca dan iklim. Kunjungan ini disertai diskusi bersama dosen dan peneliti mengenai potensi inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis data iklim.

BMKG juga menjalin kerja sama strategis dengan PTPN IV Regional III untuk pemanfaatan informasi iklim di sektor perkebunan. Ardhasena menekankan pentingnya penyusunan buletin khusus kelapa sawit berbasis data spesifik yang dibutuhkan oleh PTPN.

“Kami berharap dukungan data dari Stasiun Klimatologi Riau dapat diberikan secara daring maupun luring, demi mewujudkan kolaborasi yang berdampak langsung bagi sektor perkebunan,” ujarnya.

Baca juga : Dirpolair Baharkam Polri Ungkap Kasus Penggelapan dan Pembunuhan di Kapal KM Poseidon 03

PTPN IV Regional III menyambut baik inisiatif tersebut dan menggarisbawahi pentingnya informasi iklim dalam menentukan waktu tanam dan menyesuaikan beban produksi. Mereka juga mengapresiasi manfaat data BMKG dari Sekolah Lapang Iklim sebelumnya, terutama dalam pengambilan keputusan operasional.

Ke depan, PTPN IV berharap kerja sama ditingkatkan melalui pelatihan pengamat curah hujan, pengadaan pos hujan per kecamatan, serta penyediaan alat ukur standar. Saat ini, PTPN IV telah menggunakan aplikasi Nusaklim berbasis data AWS untuk mendukung sistem peringatan dini yang menjaga keberlanjutan produksi kelapa sawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel cybertv.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Potensi Polarisasi Etnis Mengintai, Ketegasan KPK Dinilai Penting Jaga Stabilitas Kalimantan Barat.
BMKG Kembangkan Radar Cuaca Non-Polarimetrik untuk Mitigasi Bencana Hidrometeorologi di Indonesia
Perkuat Sinergi dan Soliditas TNI, Komandan Kodaeral XII Terima Kunjungan Pangdam XII/Tanjungpura
Kajati Kalbar Pimpin Apel Kerja Perdana 2026, Tekankan Profesionalisme dan Integritas Jaksa
Kunjungi Gereja Katedral dan Immanuel, Menko Polkam Sampaikan Pesan Presiden Untuk Umat Kristiani
Aktivitas PETI Kembali Marak di Sungai Kapuas Sanggau, Diduga Libatkan Oknum APH
Perkara Tipikor Dana Hibah Gereja GKE Sintang Resmi Tahap
Oknum LSM di Ketapang Dilaporkan ke Polisi atas Dugaan Pencemaran Nama Baik dan Penyebaran Informasi Palsu
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:46 WIB

Potensi Polarisasi Etnis Mengintai, Ketegasan KPK Dinilai Penting Jaga Stabilitas Kalimantan Barat.

Senin, 9 Februari 2026 - 12:31 WIB

BMKG Kembangkan Radar Cuaca Non-Polarimetrik untuk Mitigasi Bencana Hidrometeorologi di Indonesia

Jumat, 30 Januari 2026 - 03:34 WIB

Perkuat Sinergi dan Soliditas TNI, Komandan Kodaeral XII Terima Kunjungan Pangdam XII/Tanjungpura

Senin, 5 Januari 2026 - 04:53 WIB

Kajati Kalbar Pimpin Apel Kerja Perdana 2026, Tekankan Profesionalisme dan Integritas Jaksa

Kamis, 25 Desember 2025 - 10:25 WIB

Kunjungi Gereja Katedral dan Immanuel, Menko Polkam Sampaikan Pesan Presiden Untuk Umat Kristiani

Berita Terbaru