Membongkar Kewarasan Manusia* webinar dan diskusi nasional

- Penulis

Jumat, 8 Mei 2026 - 23:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cybertv.id-Manusia perlu selalu refleksi kewarasan. Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, masyarakat hari ini tampaknya dituntut untuk selalu terlihat kuat, stabil, dan “baik-baik saja”. Media sosial dipenuhi pencapaian, lingkungan sosial dipenuhi standar kesuksesan, sementara ruang untuk mengakui kelelahan mental justru semakin sempit. Dalam situasi itulah, Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Ivet Semarang menghadirkan sebuah ruang diskusi yang mencoba mengajak *publik melihat kembali makna kewarasan manusia secara lebih mendalam melalui Webinar Nasional 2026 bertema “Membongkar Kewarasan Manusia: Antara Normalitas, Tekanan Sosial, dan Kesehatan Mental”*.
Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 2 Mei 2026 tersebut merupakan bagian dari rangkaian Ambal Warsa ke-60 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Ivet Semarang. Webinar ini tidak sekadar menjadi agenda akademik formal, tetapi juga hadir sebagai ruang refleksi terhadap realitas sosial yang semakin akrab dengan tekanan mental, kecemasan, dan krisis emosional, khususnya di kalangan generasi muda.
Sebanyak 200 an peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mengikuti webinar dengan antusias. Kehadiran mahasiswa, pendidik, dan akademisi dari berbagai daerah menunjukkan bahwa isu kesehatan mental kini bukan lagi persoalan individual semata, melainkan telah menjadi kegelisahan bersama yang membutuhkan perhatian serius dari dunia pendidikan maupun masyarakat luas.
Kegiatan ini Diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Ivet Semarang bekerja sama dengan Universitas PGRI Pontianak dan Universitas Pendidikan Mahadewa Indonesia Bali, webinar ini menghadirkan tiga narasumber dari perspektif keilmuan yang berbeda. Perbedaan sudut pandang tersebut justru memperkaya pembahasan mengenai bagaimana manusia memaknai kewarasan di tengah tekanan sosial yang terus berkembang.
Dalam pemaparannya, Dr. Rr. Dwi Umi Badriyah, M.Pd., Kons., pakar konseling ini menyoroti bagaimana masyarakat sering kali salah memahami konsep “waras”. Menurutnya, menjadi waras bukan berarti selalu mampu memenuhi tuntutan sosial tanpa merasa lelah. Di tengah budaya yang menuntut manusia terus produktif dan sempurna, kesehatan mental justru menjadi aspek yang paling sering diabaikan. Perspektif konseling yang disampaikannya menegaskan bahwa individu membutuhkan ruang aman untuk memahami emosi, menerima diri, dan bertahan di tengah tekanan kehidupan modern.
Sementara itu, Qurnia Fitriyatinur, S.Psi., M.Pd., M.Psi., Psikolog, pakar psikologi pendidikan mengupas bagaimana standar normalitas sosial dapat berubah menjadi tekanan psikologis yang diam-diam merusak kesehatan mental seseorang. Ia menjelaskan bahwa banyak individu hari ini hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi lingkungan. Seseorang dianggap berhasil ketika terlihat sempurna, kuat, dan mampu mengikuti standar sosial tertentu. Akibatnya, tidak sedikit orang yang akhirnya memendam kecemasan, kelelahan emosional, bahkan kehilangan jati diri hanya demi diterima lingkungan.
Fenomena tersebut menjadi ironi di tengah masyarakat modern. Di saat banyak orang berbicara tentang self-love dan kesehatan mental, realitas sosial justru sering kali tidak memberi ruang bagi individu untuk merasa rapuh. Banyak orang dipaksa terlihat bahagia, meski sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan hidup yang berat. Dari sinilah muncul pertanyaan besar yang menjadi inti webinar tersebut: sebenarnya, siapa yang berhak menentukan seseorang itu waras atau tidak?
Perspektif pendidikan turut menjadi pembahasan penting dalam webinar ini. Kamaruzzaman, M.Pd., C.ET., C.NFT., Pakar pendidikan menekankan bahwa dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk kesehatan mental peserta didik. Pendidikan tidak cukup hanya mencetak individu cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu menghadirkan lingkungan yang sehat secara emosional dan sosial. Menurutnya, tekanan akademik, budaya kompetisi, hingga tuntutan prestasi sering kali menjadi sumber stres yang tidak disadari dalam dunia pendidikan.

Baca Juga:  Satresnarkoba Polres Nganjuk Tangkap Pengedar Sabu Asal Sampang di Kamar Kos

Diskusi selama webinar berlangsung secara aktif dan interaktif. Para peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga terlibat dalam berbagai pertanyaan dan refleksi mengenai kondisi kesehatan mental yang mereka hadapi di kehidupan sehari-hari. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa isu kesehatan mental semakin dekat dengan realitas generasi muda saat ini. *Pertanyaan besar seberapa besar manusia yg waras dan tidak waras di Indonesia ini*,.. tambah Dr Drs Tri Leksono Ph, S. Kom,. M. Pd,. Kons,. Pengamat pendidikan dan perilaku manusia

Lebih dari sekadar webinar, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental bukan isu yang bisa dipandang sebelah mata. Di tengah masyarakat yang semakin mudah menghakimi tetapi sulit memahami, keberanian untuk membicarakan kesehatan mental menjadi langkah penting untuk membangun lingkungan sosial yang lebih manusiawi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui kegiatan ini, Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Ivet Semarang ingin menegaskan bahwa kewarasan manusia tidak bisa diukur hanya dari standar sosial yang dibentuk lingkungan. Sebab pada akhirnya, menjadi “waras” bukan tentang seberapa sempurna seseorang terlihat di mata masyarakat, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu bertahan, memahami dirinya sendiri, dan tetap menjaga keseimbangan hidup di tengah dunia yang terus menuntut banyak hal.

( Sukindar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel cybertv.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ahli Waris Tomo Wigeno (Fredy)Didampingi Tim Hukum Feradi WPI Advokat dan Paralegal,GJLGAMAT-RI di Periksa Penyidik Polres Kendal Tindaklanjut Dugaan Penyerobotan Tanah
Saksi Ngainah Menjalani Pemeriksaan Didampingi Tim Hukum FERADI WPI Advokat dan Paralegal Kota Semarang ,Terkait Dugaan Penipuan di Polrestabes Semarang
Sinergi Muspida Kota Blitar dalam Panen Raya, Wujudkan Kemandirian Pangan Daerah
Survei IDM: Kepuasan Publik terhadap Penegakan Hukum Polri Capai 75,1 Persen
Polrestabes Surabaya Amankan 14 Tersangka Joki UTBK-SNBT
Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Polres Probolinggo Gelar Lomba Olah TKP Antar Rayon
Wakapolri Tekankan Konsep O2H dalam Penegakan Hukum dan Apresiasi Kinerja Reskrim Polri
Wakapolri: Rekomendasi KPRP Momentum Penguatan Fungsi Reskrim Polri
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 06:24 WIB

Ahli Waris Tomo Wigeno (Fredy)Didampingi Tim Hukum Feradi WPI Advokat dan Paralegal,GJLGAMAT-RI di Periksa Penyidik Polres Kendal Tindaklanjut Dugaan Penyerobotan Tanah

Sabtu, 9 Mei 2026 - 06:21 WIB

Saksi Ngainah Menjalani Pemeriksaan Didampingi Tim Hukum FERADI WPI Advokat dan Paralegal Kota Semarang ,Terkait Dugaan Penipuan di Polrestabes Semarang

Sabtu, 9 Mei 2026 - 05:57 WIB

Sinergi Muspida Kota Blitar dalam Panen Raya, Wujudkan Kemandirian Pangan Daerah

Sabtu, 9 Mei 2026 - 05:18 WIB

Survei IDM: Kepuasan Publik terhadap Penegakan Hukum Polri Capai 75,1 Persen

Sabtu, 9 Mei 2026 - 05:16 WIB

Polrestabes Surabaya Amankan 14 Tersangka Joki UTBK-SNBT

Berita Terbaru

Berita

Polrestabes Surabaya Amankan 14 Tersangka Joki UTBK-SNBT

Sabtu, 9 Mei 2026 - 05:16 WIB