Cybertv.id-Manusia perlu selalu refleksi kewarasan. Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, masyarakat hari ini tampaknya dituntut untuk selalu terlihat kuat, stabil, dan “baik-baik saja”. Media sosial dipenuhi pencapaian, lingkungan sosial dipenuhi standar kesuksesan, sementara ruang untuk mengakui kelelahan mental justru semakin sempit. Dalam situasi itulah, Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Ivet Semarang menghadirkan sebuah ruang diskusi yang mencoba mengajak *publik melihat kembali makna kewarasan manusia secara lebih mendalam melalui Webinar Nasional 2026 bertema “Membongkar Kewarasan Manusia: Antara Normalitas, Tekanan Sosial, dan Kesehatan Mental”*.
Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 2 Mei 2026 tersebut merupakan bagian dari rangkaian Ambal Warsa ke-60 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Ivet Semarang. Webinar ini tidak sekadar menjadi agenda akademik formal, tetapi juga hadir sebagai ruang refleksi terhadap realitas sosial yang semakin akrab dengan tekanan mental, kecemasan, dan krisis emosional, khususnya di kalangan generasi muda.
Sebanyak 200 an peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mengikuti webinar dengan antusias. Kehadiran mahasiswa, pendidik, dan akademisi dari berbagai daerah menunjukkan bahwa isu kesehatan mental kini bukan lagi persoalan individual semata, melainkan telah menjadi kegelisahan bersama yang membutuhkan perhatian serius dari dunia pendidikan maupun masyarakat luas.
Kegiatan ini Diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Ivet Semarang bekerja sama dengan Universitas PGRI Pontianak dan Universitas Pendidikan Mahadewa Indonesia Bali, webinar ini menghadirkan tiga narasumber dari perspektif keilmuan yang berbeda. Perbedaan sudut pandang tersebut justru memperkaya pembahasan mengenai bagaimana manusia memaknai kewarasan di tengah tekanan sosial yang terus berkembang.
Dalam pemaparannya, Dr. Rr. Dwi Umi Badriyah, M.Pd., Kons., pakar konseling ini menyoroti bagaimana masyarakat sering kali salah memahami konsep “waras”. Menurutnya, menjadi waras bukan berarti selalu mampu memenuhi tuntutan sosial tanpa merasa lelah. Di tengah budaya yang menuntut manusia terus produktif dan sempurna, kesehatan mental justru menjadi aspek yang paling sering diabaikan. Perspektif konseling yang disampaikannya menegaskan bahwa individu membutuhkan ruang aman untuk memahami emosi, menerima diri, dan bertahan di tengah tekanan kehidupan modern.
Sementara itu, Qurnia Fitriyatinur, S.Psi., M.Pd., M.Psi., Psikolog, pakar psikologi pendidikan mengupas bagaimana standar normalitas sosial dapat berubah menjadi tekanan psikologis yang diam-diam merusak kesehatan mental seseorang. Ia menjelaskan bahwa banyak individu hari ini hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi lingkungan. Seseorang dianggap berhasil ketika terlihat sempurna, kuat, dan mampu mengikuti standar sosial tertentu. Akibatnya, tidak sedikit orang yang akhirnya memendam kecemasan, kelelahan emosional, bahkan kehilangan jati diri hanya demi diterima lingkungan.
Fenomena tersebut menjadi ironi di tengah masyarakat modern. Di saat banyak orang berbicara tentang self-love dan kesehatan mental, realitas sosial justru sering kali tidak memberi ruang bagi individu untuk merasa rapuh. Banyak orang dipaksa terlihat bahagia, meski sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan hidup yang berat. Dari sinilah muncul pertanyaan besar yang menjadi inti webinar tersebut: sebenarnya, siapa yang berhak menentukan seseorang itu waras atau tidak?
Perspektif pendidikan turut menjadi pembahasan penting dalam webinar ini. Kamaruzzaman, M.Pd., C.ET., C.NFT., Pakar pendidikan menekankan bahwa dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk kesehatan mental peserta didik. Pendidikan tidak cukup hanya mencetak individu cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu menghadirkan lingkungan yang sehat secara emosional dan sosial. Menurutnya, tekanan akademik, budaya kompetisi, hingga tuntutan prestasi sering kali menjadi sumber stres yang tidak disadari dalam dunia pendidikan.
Diskusi selama webinar berlangsung secara aktif dan interaktif. Para peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga terlibat dalam berbagai pertanyaan dan refleksi mengenai kondisi kesehatan mental yang mereka hadapi di kehidupan sehari-hari. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa isu kesehatan mental semakin dekat dengan realitas generasi muda saat ini. *Pertanyaan besar seberapa besar manusia yg waras dan tidak waras di Indonesia ini*,.. tambah Dr Drs Tri Leksono Ph, S. Kom,. M. Pd,. Kons,. Pengamat pendidikan dan perilaku manusia
Lebih dari sekadar webinar, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental bukan isu yang bisa dipandang sebelah mata. Di tengah masyarakat yang semakin mudah menghakimi tetapi sulit memahami, keberanian untuk membicarakan kesehatan mental menjadi langkah penting untuk membangun lingkungan sosial yang lebih manusiawi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui kegiatan ini, Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Ivet Semarang ingin menegaskan bahwa kewarasan manusia tidak bisa diukur hanya dari standar sosial yang dibentuk lingkungan. Sebab pada akhirnya, menjadi “waras” bukan tentang seberapa sempurna seseorang terlihat di mata masyarakat, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu bertahan, memahami dirinya sendiri, dan tetap menjaga keseimbangan hidup di tengah dunia yang terus menuntut banyak hal.
( Sukindar)














