Panglima Besar DPP Laskar Pemuda Melayu Kalbar Hadi Firmansyah (Adhy Black) Kutuk Keras Aksi Brutal WNA, Desak Deportasi Tanpa Toleransi

- Penulis

Selasa, 16 Desember 2025 - 03:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cyber tv id – Ketapang, 15 Desember 2025 Kalimantan Barat — Aksi penyerangan dan perusakan yang diduga dilakukan oleh belasan Warga Negara Asing (WNA) di wilayah Desa Pemuatan Batu, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, memicu kemarahan luas. Insiden yang menyasar aset dan karyawan PT Sultan Raffi Mandiri (SRM) itu dinilai bukan sekadar kriminal biasa, melainkan ancaman nyata terhadap keamanan daerah dan kedaulatan negara.

Reaksi keras datang dari Panglima Besar Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Laskar Pemuda Melayu (LPM) Kalimantan Barat, Hadi Firmansyah (Adhy Black). Ia mengutuk keras tindakan brutal tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada ruang kompromi bagi warga negara asing yang berbuat onar, bersenjata, dan melanggar hukum di tanah Indonesia.

“Kami mengutuk keras dan tanpa syarat aksi biadab ini. WNA datang ke Indonesia wajib tunduk pada hukum negara. Kalau sudah membawa senjata, menyerang aparat, merusak aset perusahaan, itu bukan tamu—itu ancaman. Harus ditindak tegas dan dideportasi,” tegas Adhie Black.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Serangan Bersenjata, Drone, dan Arogansi Asing

Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (14/12/2025) sore, diawali dengan terpantauannya aktivitas penerbangan drone di sekitar kawasan perusahaan. Saat aparat pengamanan berusaha melakukan klarifikasi, situasi justru berubah menjadi mencekam.

Sekitar 15 orang WNA diduga mendatangi lokasi secara berkelompok, sebagian membawa senjata tajam, airsoft gun, dan alat setrum, lalu melakukan penyerangan terhadap petugas pengamanan. Karena kalah jumlah, aparat terpaksa menghindar demi keselamatan jiwa.

Tak berhenti di situ, amukan pelaku berlanjut dengan perusakan berat terhadap satu unit mobil perusahaan dan satu unit sepeda motor milik karyawan PT SRM. Satu bilah senjata tajam berhasil diamankan sebagai barang bukti, sementara publik dikejutkan oleh fakta bahwa aksi kekerasan ini diduga bukan yang pertama.

Baca Juga:  Peringati Hari Bhayangkara ke-79, Kapolres Kediri Kota Anjangsana ke Purnawirawan Polri

Bukan Insiden Tunggal, Ada Pola Ancaman

Menurut LPM Kalbar, kelompok WNA yang sama sebelumnya juga diduga terlibat dalam perusakan fasilitas perusahaan, menguatkan dugaan adanya pola intimidasi, tekanan, dan aksi terorganisir.

“Kalau ini dibiarkan, besok bisa lebih parah. Hari ini perusahaan, besok masyarakat. Negara tidak boleh kalah oleh arogansi orang asing,” ujar Adhy Black dengan nada keras.

Ia menilai lemahnya pengawasan terhadap aktivitas dan keberadaan WNA berpotensi membuka ruang konflik horizontal, keresahan masyarakat, serta merusak iklim investasi yang sehat.

Desakan Deportasi dan Audit Visa Menyeluruh

LPM Kalbar secara tegas mendesak aparat penegak hukum, TNI, Polri, dan Imigrasi untuk tidak ragu mengambil langkah ekstrem namun sah secara hukum, termasuk:

1. Mengusut tuntas motif penyerangan dan penggunaan drone di area perusahaan.

2. Memeriksa dan mengaudit status visa, izin kerja, dan izin tinggal seluruh WNA yang terlibat.

3. Menindak pidana para pelaku, serta

4. Melakukan deportasi tanpa kompromi terhadap WNA yang terbukti melanggar hukum.

> “Deportasi adalah harga mati. Indonesia bukan wilayah bebas kekerasan bagi WNA. Siapa pun yang melanggar hukum harus angkat kaki dari negeri ini,” tegas Adhie Black.

Negara Diuji, Publik Menunggu Ketegasan

Pihak PT SRM telah melaporkan kejadian ini ke Polsek Tumbang Titi, dan aparat kepolisian telah melakukan olah TKP serta pendalaman kasus. Namun bagi LPM Kalbar, penegakan hukum tidak boleh berhenti di level laporan.

Kasus ini kini menjadi ujian serius bagi kehadiran dan ketegasan negara dalam menjaga keamanan wilayah, wibawa hukum, serta perlindungan terhadap masyarakat dan dunia usaha lokal.

“Kami akan mengawal kasus ini sampai tuntas. Jika negara diam, kami tidak akan diam,” pungkas Adhy Black.

Tim : Investigasi LPM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel cybertv.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kantor ATR/BPN Makassar Bantah Isu Jual Beli Nomor Antria
Dampingi Petani Jagung, Polsek Kepung Dorong Ketahanan Pangan di Desa Kencong
Polrestabes Surabaya Ungkap Kasus Pencurian Emas, Modus Menyamar Jadi ART
Aksi Kemanusiaan Polres Kediri Kota, Donor Darah Jadi Wujud Pengabdian untuk Negeri
Polres Kediri Kota Gelar Apel Pengamanan Malam Takbir Idul Adha 1447 H, Kapolres Tekankan Pengamanan Humanis dan Persuasif
Polresta Sidoarjo Siagakan 1.140 Personel Layanan Pengamanan Pilkades Serentak di 80 Desa
Pawai Takbir Obor Keliling RW 05 Dsn Pojok Meriahkan Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M
Diduga Arena Sabung Ayam di Penjalinan Bendosari Tulungagung Aktif Kembali Sehari Usai Digerebek Polsek Ngantru
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:23 WIB

Kantor ATR/BPN Makassar Bantah Isu Jual Beli Nomor Antria

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:39 WIB

Dampingi Petani Jagung, Polsek Kepung Dorong Ketahanan Pangan di Desa Kencong

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:20 WIB

Polrestabes Surabaya Ungkap Kasus Pencurian Emas, Modus Menyamar Jadi ART

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:17 WIB

Aksi Kemanusiaan Polres Kediri Kota, Donor Darah Jadi Wujud Pengabdian untuk Negeri

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:12 WIB

Polresta Sidoarjo Siagakan 1.140 Personel Layanan Pengamanan Pilkades Serentak di 80 Desa

Berita Terbaru

Berita

Kantor ATR/BPN Makassar Bantah Isu Jual Beli Nomor Antria

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:23 WIB